AGUNG


Tulisan ini saya buat 25 Februari 2019, tentang memori yang tersisa dan ingin kembali berada disana.


Teringat saya suatu ketika, meski agak samar, namun ingat saat itu menginjak sekolah dasar. Belajar gitar setiap sore dibangku depan dan sekali keluar santai di bale warung bawah pohon rambutan.
Jam tua yang selalu bergenting setiap angka bulat, masih terbayang bagaimana sudut rumah dengan pemandangan kebun yang disampingnya tangga menuju loteng. Setiap libur saya akan berkunjung ke halaman belakang menengok kura-kura tua yang sering dibawah kandang ayam, dan menuju loteng melihat beberapa coretan di lantai kamar, aquarium, kaset dan tape deck yang lampu  powernya berwarna hijau.



Agung tak banyak bicara, meski sering diam namun dia pemerhati yang sangat jeli. Jika pagi mengurus bonsai dan sore ia akan duduk depan TV melihat acara musik pada saat itu dengan cermat. Misterius namun berani bicara dengan segala hasil cobaan nya, bonsai, aquascape, dan kaset kaset yang berantakkan. Agung lebih banyak menyendiri ketimbang beramai diluar dengan teman seumurannya diluar, jarang. Ia lebih banyak acuh, kecuali memang tidak ada yang bisa menghentikkan saya yang tak ada habisnya membuat masalah.

Meski saya beranjak dewasa dengan hadirnya Sheila on7, namun Timur Tragedy dan kompilasi Metalik Klinik atau dengan nama nama band yang tak dapat saya baca pada saat itu menjadi awal ketertarikan saya untuk terus diam-diam menguntit rak kaset miliknya. Hingga pada saat waktu saya berkesempatan mendengarkan musik yang ditunggunya lewat radio, dan mendengarkan seolah mengerti, itu menyenangkan.

Menginjak sekolah menengah pertama, saya sadar apa yang Agung koleksi dan rela menyalakan radio tape nya menyala pada hari-hari di jam tertentu. Itu bukan koleksi rekaman biasa, mulai dari Napalm Death, Obituary, COF, hingga Puppen dan Balcony. Sangat heran dengan ia yang begitu betah menggunakan sarung namun dapat mendengarkan musik yang saat itu jika orangtua tau akan geleng-geleng dan komat kamit astagfirullah ketakuan akan anaknya menjadi majnun. Untuk ukuran seorang santri yang mengeyam banyak ilmu agama dan bolak-balik pesantren , selera musik Agung cukup melenceng dan liar.

Kedinginan sikap Agung namun panas kaos yang digunakannya menjadi katalis bagi saya, sepatu compass full hitam dengan kemeja saat itu adalah pakaian yang kemudian hari saya idam-idamkan, setelah tujuan utamanya adalah semua kaset rekaman miliknya, meski pada akhirnya tak sekalipun saya pernah diajak untuk menyaksikan gigs dibogor dengannya, sebagai gantinya Darul (adik Agung) yang sering mengajak saya menyaksikan acara musik atau sekedar mampir membeli kaset di jembatan merah atau judas distro dikawasan taman topi.

Waktu mengubah menjadi sesuatu, perlahan energi dalam hidupnya meredup. Setelah seorang Ibu pergi meninggalkannya, juga kami semua pun kehilangan. Jika memang album Balcony rilisan harder menjadi sesuatu yang ia sayang, itu tak cukup untuk membendung kecintaan pada dua mataharinya, tak cukup untuk membuat semangat hidup nya tak lagi terpermanai. 

Dengan cerita dan jalan hidup saya yang sekarang, saya berfikir bagaimana jika saat itu kaset-kaset nya tak berantakan dan gambar-gambar menyerupai setan tak menghiasi alas tembok kamarnya. Jauh setelah ia memberi tahu saya bahwa Venom adalah awal dari generasi awal musik setan (red:black metal) saat itu pula kami terpisah cukup lama dan hanya bertemu jelang hari raya idul fitri tiba. Dibalik dengan segala awal kedewasaan yang harus dilampaui, kesibukan dan keseharian yang tak biasa, meski itulah jalan bagi kata lain adalah syariat, pun proses, bukan penyelesain. Musik semacamnya menjadi apa yang saya dengar sehari-hari, disisi itu pula saya akan selalu mengingatnya, sebab musik adalah media terbaik untuk menyimpan memori.

Sama seperti mahluk lainnya, manusia memiliki kesedihannya masing-masing yang tak mugkin dibagi, sebab itu kesunyian nasib. Satu tersisa matahari kembali meninggalkan nya, pun kami juga kehilangan kembali. Dimana ia belum sepenuhnya mengejawantahkan apa yang harusnya menjadikan seorang anak. Ia menjadi satu bagian dari frasa tesis Hugo “Mereka yang tidak menangis, tidak melihat“. Dan pada nyata nya saya benar-benar tak pernah melihat langsung ia menangis, tapi saya tak pernah yakin. 

Saya kembali menghampirinya setelah kedua matahari yang ia miliki tak lagi bersinar, tak lagi tersisa. Ia merasa kesakitan di bagian kaki dan cukup membuat sulit untuk lama berdiri. Betapa momen masa kecil dulu dirumah tersebut memberikan getar sedemikian rupa, membuat semua terasa melankolis namun bisa membuat hilang pesimisme hidup, dimana kekuatan menjadikan bekal untuk tameng berhadapan dengan ketakutan. Pernah ada suatu hari akan dikenang, dimana sore menyanyikan Sheila bersama dan malam mendengarkan metal di radio kamar loteng.

Kaset-kaset yang dulu berserak dikamar akhirnya saya dapatkan, setelah ia ambil diruang belakang dekat kandang ayam, berdebu dilindungi plastik hitam. Ini waktu yang tepat membersihkan artefak dan mendengarkannya kembali. Balcony menjadi awal yang saya putar, agak goyang pada lagu pertama, mungkin pita yang lembab namun lancar pada lagu dan side berikutnya. 


Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya

Chairil Anwar "Sendiri" 1943








Komentar