Setelah beberapa obat dimasukan melalui infusan tangan kanan, semua terasa lega. Nafas kembali teratur dibarengi dengan lapar, setelah beberapa jam sebelumnya memang tidak masuk makanan. Penglihatan mulai jelas namun sialnya 4 hari dengan pemandangan yang sama.
Musim penghujan tiba, saya selalu suka meski dengan
kerepotan dan kelambatan akan sesuatu yang sedang dijalani saat itu, pasti. Pasca
lebaran tidak ada hal yang begitu saya tunggu, kesibukan yang itu-itu saja dan
pengulangan yang tiap hari menghantui pikiran. Sialnya tak ada yang
saya baca setahun kebelakang, sehingga saya kehilangan kosakata, atau memang
saya malas.
''Tak ada hal yang
begitu saya tunggu'', entah memang rutinitas saya yang berubah, atau justru
memang sudah tidak sebergairah seperti 2 tahun ke belakang. Jika disambungkan dengan
album musik, mungkin saya ada pada album ''Metafora
Komposisi Imajinar'' milik Balcony pada side B, dengan nuansa melankolia,
cenderung pada kesedihan juga kenihilan total.
Mungkin ada fase dimana semuanya tidak melulu harus
tercapai, tidak melulu mimpi jangka panjang dan memulai hidup dari hari ke hari.
Membuat ritme lebih pelan dan acuh pada hal-hal yang tidak terlalu serius,
dengan ragu saya yakini dalam hati ini bukan anhedonia, sial.
Yang menyisakan dari hari raya mungkin tulisan esai Zen RS
yang saya baca berkali-kali untuk mengisi waktu ketika opor dan rendang sudah
mulai kering lagi dimeja makan. Selain hujan gerimis di alun-alun Sumedang,
atau nasi goreng di Trunojoyo yang tak jadi saya makan. Tentang pengulangan
tadi seperti yang ada pada esai Zen; bangun pagi, kerja sampai hilang nama
sendiri lalu tidur dengan hutang dan tenggat waktu. Melamban juga bukanlah sesuatu
yang tabu ucap Maul Cs, kadang itu yang kita perlu, untuk memastikan bahwa kita
belum kalah jauh.
Lewat beberapa bulan setelah itu, Det-Plag Lust melakukan tour untuk promosi EP mereka, setelah menjelajahi Jawa dan sekitarnya, Dimas & Ocir Cs mendarat di titik akhir, Cipanas. Berangkat dengan Zul dan Aip lebih awal, sebab kita melintasi jalur setan yang dimana saat itu pas dengan hari libur panjang. Selang beberapa hari pula Marmalia melakukan mini tour, Jakarta tepatnya. Entahlah, itu menjadi momen kembalinya gairah juga pencerahan. Bahwa selain momen itu, Izzad memang menjadi salah satu inspirator untuk Thouses dalam urusan musik. Daily Ritual, Zado hingga Marmalia saat ini, kita berhutang inspirasi padanya. Obrolan yang tak lama dengan Izzad sambil menunggu giliran dia main, bertukar referensi yang sialnya ternyata referensi kita semua tidak jauh beda, udara semakin dingin, sebelum Jakarta ditelan oleh macetnya.
Saya tidak sepenuhnya suka hujan ternyata, saya lebih suka
suasana setelah hujan, bau aspal atau matahari yang muncul kembali dengan
pelan. Empat hari yang menyisakan saya harus meminum obat lebih banyak, kontrol
rutin yang membosankan. Rupanya saya tidak selamat dari demam siang itu, tapi
saya selamat dari nuansa melankolia, kenihilan kosong juga kesedihan, meski
menyisakan ketakutan yang jauh lebih beda, sejujurnya saya ingin tetap ada,
lebih lama.
(Kebahagian dan derita)
Masing-masing punya cerita
Komentar
Posting Komentar