I
Belakangan terakhir sifat ingin ‘beberes’ saya muncul begitu kencang, merapihkan tumpukan file yang bercampur atau membersihkan debu di rak-rak yang mulai tebal. Saya suka sekali mengumpulkan sesuatu yang berbentuk kertas, baik itu potongan tiket, bon-bon belanjaan, tag merch, hingga sampai booklet-booklet "cara memasang suatu produk" itu saya simpan dan numpuk berantakan, entah.
Dunia yang semakin tak bisa ditebak, recording yang berakhir tak terpakai, materi-materi baru Thouses, sakit Ibu yang membaik, panggung pertama kami, kawan-kawan baru, jalan Merak pukul satu pagi.
Regi join dengan projekan post-punk nyungseb menggantikan posisi drum sebelumnya, membawa warna dan relasi baru sehingga kita bisa main di acara yang digagas oleh kolektif musik Bogor, bahkan luar. Membuka jalan dan pencerahan setelah kita semua mentok pasca drummer kami sebelumnya mulai menyebalkan. Sejujurnya saya masih penasaran apa dan kenapa ia bisa berubah semenyebalkan itu, meski alasan utamanya mungkin saya juga sedang berada di fase itu, tapi dia tak pernah pakai kompromi nya, namun itu pilihan.
Setelah Oktober tahun lalu hidup berubah drastis, membagi waktu untuk ini itu, membagi perhatian untuk hal-hal yang bukan hari ini dan kemarin, juga cobaan atau bahagia yang berbeda dari sebelumnya. Jelang pernikahan, workshop band-bandan sering dilakukan dirumah saya atau Dimas, meski jaraknya tak begitu jauh, terkecuali untuk Robby yang memang rumahnya diujung kota.
Terlintas obrolan saat itu, bagaimana kehidupan setelah menikah, apakah semua yang sekarang sedang dilakukan (nge-band) akan kita kurangi bahkan ditinggalkan, atau tetap seperti saat itu. Topik pembicaraan yang muncul karena Dimas cerita bahwa temannya meminjam stompbox untuk show terakhir dia di Deafness, yang mana sekarang Robby ikut format baru dari band tersebut.
II
Sialnya semua berjalan cepat, untungnya saya masih waras dengan cuaca Bogor saat itu yang mendung dan panas bergantian, juga jalanan yang dipenuhi baliho-baliho parpol tai kucing.
Melihat kenyataan bahwa kehidupan setelah menikah adalah hal yang elastis tidak harus kaku, meski memang pada prosesnya ada kompromi-kompromi itu sendiri yang harus kita usahakan tanpa harus menghilangkan kewajibannya. Meski saya pikir sebelumnya itu akan mudah, hanya saja ada hal-hal yang memang saya minimalisir guna istri tidak cemberut.
Memang saya adalah orang yang tak bisa jauh dari kawan-kawan, yang mungkin hanya sekedar nangkring memesan kopi, ngobrol ngalor ngidul atau makan pecel ayam. Hingga sampai menemui realita memang harapan untuk terus beromantisasi dengan mereka adalah kemustahilan, semua akan berubah dan lazim untuk berubah.
Jauh berfikir bagaimana setelah itu semua berubah, dan tak ada lagi waktu untuk membahas tentang berkemah disuatu tempat yang dingin atau mungkin obrolan ngalor ngidul perihal bertaruh, lebih pilih mana jika pada hari yang sama kita disuruh membantu Orangtua atau melihat GY!BE konser di Indonesia, jelas semuanya akan lebih memilih konser.
Saya tak berharap semuanya akan kembali sama sedia kala, perlahan waktu semuanya akan memudar. Tapi bukan hari ini, semua masih punya kesempatan dan harapan untuk mewarnai itu semua sebelum saatnya tiba. Saya selalu berharap saya masih memiliki waktu itu cukup panjang, cukup terang, semoga.
III
Di awal bulan setelah Juni, malam semakin terjaga dan panjang, kami dikaruniai seorang anak laki-laki. Saat beberapa anak di Gaza dihujani bom oleh zionis keparat, ketika tampang politik yang semakin hari semakin cialat, atau saat saya mulai membaca ulang ‘’Melihat Api Bekerja’’ milik Aan.
Potret jalan Heulang yang membuat tenang, hari dimana udara sangat sunyi juga keheningan pikiran yang entah dimana. Awal bulan yang tak disangka, mendapatkan rezeki dan pertanggungjawaban besar kelak. Warung kopi didepan rumah sakit dengan pohon yang rindang, tengah malam saya membicarakan bagaimana kedepan selanjutnya. Rizki mampir tengah malam sehabis pulang bekerja, menghabiskan beberapa batang rokok lalu pulang.
Semua tak lagi sama sejak hari ini, semua ingin saya catat saat malam itu sebelum romansa menghilang bersama debu kota. Ucapan selamat juga doa mengingatkan saya kepada semua yang telah hadir, yang pernah berbagi peran untuk menghadapi takdir. Ambil hari-hari yang akan datang, jalani apa yang menjadi milikmu kelak, nak.
IV
Sebelum kelahiran Kala, saya mendengarkan kembali album "Blacklight" Koil secara khusyuk, memutar platnya yang saya pinjam dari Robby. Sialnya saya baru sadar bahwa album ini sangat gelap dan murung, juga istimewa. Saya tak pernah benar-benar menyimak album ini secara penuh, setelah saya memutar ulang playlist lama, ada satu track dari album tersebut hingga akhirnya saya putar full album. Sebagai pengganti kekecewaan, album ini saya dengarkan selalu sebagai pengiring perjalanan berangkat dan pulang kerja, pun sebagai pengingat bahwa dalam absurd nya hidup, harapan harus tetap ada, atau sekedar penanda hari dimana Kala lahir ketika album ini saya putar berulang.
“Walau sebentar matahari bersinar
Menerangi dunia menyambut harapan
Keheningan doa dan tetap berdoa
Rasa sakit yang ada berakhir bahagia”
Komentar
Posting Komentar