Hari yang tak kunjung reda, tidur larut dan melihat matahari lebih awal menjadi kebiasaan akhir-akhir ini. Pasca rilis Nola , semua terasa lebih menjauh, bahkan jauh sebelum itu, beberapa seakan menghilang begitu saja, pun juga beberapa datang begitu saja.
Beberapa bulan ini penyakit Ibu saya kumat tidak karuan, memaksa saya harus berada di rumah lebih lama. Berbicara dengan sanak yang sebelumnya tak pernah saya lakukan, bukan karena tidak akur, tapi memang saya berkomunikasi lebih jarang sebab jarak dan beberapa hal lain.
Gelas ketiga saat sore tak juga memberi rasa tenang, beberapa rilisan yang saya tunda guna keperluan-keperluan yang kadang tidak ada dalam catatan, plat Ghaust saya abaikan dengan sadar, berharap ada beberapa orang di kemudian hari mau menjualnya. Sama halnya seperti Konser Rimpang yang tak pernah saya niatkan untuk datang.
Ketika pagi berangkat dengan kondisi Ibu yang sedang kumat adalah hal yang baru saya rasakan, karena sebelumnya saya lebih sering berangkat dengan membuat beliau kesal. Muncul dimana waktu-waktu begitu sangat panjang, dengan mata dan headset yang tak beraturan akhirnya memaksa saya harus sedikit menyimpang. Memesan kopi dan satu tempe untuk mengganjal. Tentang sakitnya, saya dan kaka saya selalu memikirkan kemungkinan terburuknya, bukan kami pasrah atau apapun hal dengan makna tak cinta. Kami mencoba sadar serta sabar dengan segala sesuatu yang tak melulu harus selesai saat itu, dengan kejadian ini bahkan kami membicarakan hal yang lebih personal perihal hidup. Begitu sadar bahwa kedua lelaki Bapak kini sudah berada di titik yang hampir jauh beberapa.
Tunggakan kerjaan yang hampir mendekati tengat, saya bergegas dengan langit yang mulai menggelap. Menggunakan MRT menuju Senayan, saya menikmati sore itu dengan sedikit santai namun kosong. Sudah lama rasanya tidak menggunakan transportasi umum lagi, semenjak September beberapa tahun silam. Setibanya disana saya menelfon Iam yang memang beberapa jam sebelumnya kita janjian. Langit sudah gelap, orang-orang mengantri masuk dibarengi dengan para calo yang menawarkan tiket masuk dengan harga miring.
Diawali dengan Bergeming, ruangan belum terisi penuh karena masih banyak yang beberapa antri minuman diluar. Saya yang bergegas meninggalkan antrian, karena berjanji akan menyaksikan sesi pertama konser ini dengan penuh tanpa satu lagu pun yang terlewat. Melihat mereka para orangtua menyajikan sajian yang sangat disiplin , sederhana itu tetap melekat pada mereka yang bukan lagi menjadi trio pop minimalis. Dilanjut Heroik, dibarengi visual yang luar biasa bergantian mengisi panggung malam itu, memandang patut mata untuk tak melihat kearah selain panggung.
Lalu menunggu dipanggil pulang, Ternak digembala dinyanyikan dengan Cholil yang merasa masih kaku dan mengenang dengan konser mereka beberapa tahun silam, Sinestesia sepertinya, saya lupa. Perihal kehilangan, beberapa tempo saya merasa seperti itu, entah dari apa yang memang seharusnya, atau tidak seharusnya, atau bahkan itu bukan perkara kehilangan. Beberapa kawan memilih lajur nya masing-masing, sebagian lagi memilih menyerahkan hidupnya pada hal-hal lain.
Lagu belum usai, Morgue Vanguard menambahkan narasi untuk semua yang sedang dalam perlawanan, kepada mereka yang menjadi mercusuar pembungkaman demokrasi saat ini, hingga mereka yang sedang bertahan dihadapan perampasan ruang hidup, dari Banjaran hingga Halmahera, dari Kanjuruhan hingga Dago Elos malam itu, di hadapan babilon, berharap marwahnya akan menyebar serupa Dandelion.
Tiga track sisa berlalu dan berakhirnya sesi satu, keluar untuk sedikit mengambil nafas dan merebahkan kaki. Saya tidak terlalu berharap menyaksikan sesi berikutnya dengan khatam, namun tiba saat Adrian memasuki panggug, dan memainkan track dari album Sinestesia, Putih. Erk menjelma menjadi post-rock sejatinya, eksplorasi timbre di atas struktur dengan permainan Guitar E-Bow - Ambience - Noise berceceran pada hampir dua jam lebih. Reza membawa arwah Erk menjadi lebih rumit, namun tetap sederhana.
Tidak terasa, Cholil mengucap terima kasih kepada semua yang terlibat dalam konsernya, dan di tutup dengan Merdeka. Apuy membuat beberapa distrik, membangun beberapa titik kebun-kebun di berbagai wilayah Bogor, Yusril dan Dimas segera menikah, Robby mulai memasuki scene Metal, Yuri membantu membuat pasar untuk petani Aren Bersama Hari dan beberapa kawan lain, Lupi meluaskan jejaring namun lama tak pulang, Bani kehadiran putra pertamanya, Restian kembali dari perantauan, Ariefa resign yang kesekian, dan juga setiap kalian yang mengakali kehidupan dan mencoba ikhtiar pada dunia yang kalian amini.
Jakarta 31/07.
Kawan yang perlahan padam
Yang meranggas datang dari waktu-waktu terbenam
Biarkan mengakar saat temaram
Tak apa mengakui ringkih di palangan
Bertahanlah sedikit lebih lama
Tumbuhlah liar serupa gulma
Komentar
Posting Komentar