Saat Rembulan, dimakamkan.




Rokok sisa separuh tertinggal di santa. Pedagang kecil di SD 05. Alarm sahur yang nyala jam 7 pagi kurang delapan. Jalan otista tengah malam. Bogor dengan cuaca agak dingin namun tak turun hujan. Natsir dan Aidit diwarung kopi. Peluncuran album speedkill ‘’buas’’ yang saya lihat hingga usai. Punk, karang taruna & Soekarno milik Taufik Rahman. Lennin yang dibutakan cita-cita. Malam agak terasa panjang. Nenek mengerang kesakitan.
 
Tak pernah berfikir untuk menulis. Bahkan mendengarkan musik lebih praktis, sampai batre walkman menjearit habis. Rabu malam itu terasa agak lelah, hujan baru reda, namun aspal masih basah. Bogor terasa ramah subuh itu. Pulang kerumah saya kunci pintu. Kamis siang, libur tak begitu panjang, buku pun tak kunjung usai, tak karuan.

Malam tiba. Rifa dan Lupi bercerita tentang kopi pertamanya. Lalu pulang.           
Potongan-potongan doa yang tak pernah saya hafal. Tak bicara, hanya berdiri disampingnya sambil menunggu dan tak mungkin mengeluarkan airmata. Masih bicara saat itu, pun masih meminta sedikit udara, pengap. Tak ada pesan, atau saya yang mulai tak tega ketakutan.
Hari-hari semakin padat diwaktu itu. Tidur larut, obrolan-obrolan dengan kawan hingga lupa rembulan. Minggu tiba, libur hadir lagi. Besok, kerja kembali.


Tak pernah terfikir itu terjadi, bahkan saat saya menggantikan bajunya, pun itu memberi harapan akan baik-baik saja, dan tentu kembali kerumah.

Disampingnya terakhir kali, filosopi kopi nya Dee, dan sisa gorengan maghrib itu. Album-album yang belum terbeli. Proyek besar depan kantor. Kemarin Fahmi temani saya hingga larut mulai meraut.

Minggu sore, sehabis membenarkan tanaman dihalaman rumah. Lagu yang terputar dikamar, suaranya tak jelas. Maghrib tiba, rembulan tak hadir. Saya kehilangan, selama-lamanya. Peredam saat lelah, sentuhan tangannya tak akan lagik terasa, sudah. Tak ada satupun lagu yang saya dengar. Erk dengan putih nya pun tak relevan saat itu, juga Moya GY!BE nya tak saya hiraukan!

Saya melihat rembulan kembali, namun berbeda rasanya. Dia diam saja, tak bicara.         
Nenek berbalut kafan, tangis takkan redam.

Waktu terasa lama, entah bagaimana hidup di depan. Nenek pergi. Tak ada lagi rasa sakitnya, ia sembuh dan takkan lagi meminum obatnya yang segala rupa.

Tak ada pengakhir dalam cerita ini, saya lebih dekat dengan kertas. Sejak inipula saya menghabiskan batang rokok cukup banyak lagi. Termenung renunganku, saat rembulan di makamkan.



             
                                                       Fatmawati, Kamis tengah malam, Jumat 00.30 dibulan Ramadhan



Untuk 100hari tanpamu, untuk kami yang berdosa dan meminta doa. Kepada Kau yang segala maha, ku panjatkan harapan, titik nadi diujung negeri tiran.

Komentar