Heru yang Tak Sempat Mencukur Rambutnya

Mayday telah berlalu, tanggal merah pun sudah tak hadir diminggu ini. Perbekalan hampir habis hingga saya harus mengirit seakan tak ada lagi uang ( terkadang saya irit untuk biaya soal perut ketimbang untuk membeli kaset atau cd yang sudah lama tak terbeli, tak adil rasanya perlakuan ini kepada badan ). 

Para buruh kembali bekerja, meski tak jelas keinginan mereka dikabulkan atau tidak. Ruangan terasa dingin sekali, pun panas nya pembicaraan teman kantor yang semakin antusias mendengar kabar diskon mekdi. Terkadang saya bangga terlahir di sebuah pedesaan dengan keadaan yang jauh dari hingar bingar pusat kota (meski sekarang jalan arah menuju pulang pun mulai ramai dengan berdirinya pusat perbelanjaan). Perlahan saya keluar ruangan sambil menolak tawaran untuk ikut mengonsumsi mekdi.

Jakarta, ibukota ini yang riuh dengan gemerlap kemewahan bahkan terkadang tak membuat saya nyaman, meski tak bisa dibohongi di kota ini pula saya bisa dengan mudah mendapatkan informasi gigs atau penjualan rilisan fisik yang saya idam-idamkan. Heran pula dengan adanya warteg yang rela saya konsumsi lauknya hanya dengan bandrol 3ribu rupiah, berfikir bahwa dikota Metropolis terbesar ini, seribu dua ribu sudah tidak relevan untuk dipergunakan. 

Waktu bergerak menuju pukul 16 lebih 4menit, jam pulang sudah diperbolehkan. Menuju pulang dengan pikiran bingung mau apa setiba nya nanti di kost satu petak yang harga sewanya kemarin dinaikan (madafaka).

Dengan udara yang sedikit pengap, saya buka jendela dan perlahan menyalakan rokok yang tersisa dua batang lagi. Teringat kawan di Bandung sana, sudah lama tak berpapas setelah dua bulan ia menikah. Pergi dengan istrinya mencari rizki untuk biaya hidup yang semakin hari tak menentukan.
Kini heru beristri, hingga prioritas utama hidupnya terbagi untuk wanita belia yang ia sayangi. Rokok tak terasa enak, karena tak ada kopi (malas buatnya).

Mungkin seperti itu menjadi layaknya manusia, melakukan, pun mengerjakan untuk hidupnya sendiri walau kadang tak manusiawi menurut saya. Meski 3tahun terakhir ini saya mulai melakukan apa-apa sendiri.
Pukul 17.38 kini, suara speaker masjid setempat yang beradu dengan playlist yang memutarkan noise nya Ghaust - Akasia RMX pun menemani senja kamis ini.
Heru mungkin menjadi bagian dari para buruh yang senin lalu menyuarakan hak nya. Karena bagi saya Mayday bukan hanya untuk para buruh. Agus pula, yang dimana terkena sistem yang dianggap atau disebut "pemutihan" oleh pihak pabrik dimana ia bekerjapun sama sekali tak menghiraukan Mayday saat itu. Disini mungkin klise-klise itu mulai tercuci, dimana seorang Bapak lebih mengutamakan waktu kerja ketimbang mengisi perutnya.
Magrib pun berlalu, terasa malas untuk makan, rokok sepertinya lebih menarik dengan booklet-booklet yang menguning akibat tumpahan kopi. Terkadang seorang mengalah akan nasibnya, pasrah, meski itu terasa tidak adil. Bisa saja semua buruh turun ke jalan, mogok kerja, longmarch, menyuarakan haknya. Tak terbayang mungkin jika itu terjadi, kekuatan sebesar apa yang akan terjadi, berapa miliyar produk yang akan terhenti. Renungkan. . . .
Bukan tak sanggup mungkin.
Heru yang ingin sekali saya dengar ceritanya, keluh kesahnya. Saya juga yang hampir setahun belakangan ini tanpa cerita kawan yang mereka jalani dalam hidupnya.

Ada kekuatan besar yang tak termahakan, yang meredam sehingga lebih besar, dibanding kekuatan jika para buruh semua bersatu. Ada alasan yang lebih izhar, lebih realistis ketimbang daripada akhirnya mereka mengemis. Titik aman disitulah yang mengurungkan kekuatan tadi, dimana kekuatan tersimpan. Bertanya pada diri sendiri, mengapa kau tak turun kejalan? . Kalimat pertama yang akan dikeluarkan mungkin adalah '' seginipun masih untung punya kerjaan, jika saya ikut demo saya takut akan kehilangan pekerjaan ini, anak istri dirumah bagaimana? ''. Pikirkan, tanpa langsung kita mengalah pada keadaan, pada nasib, pun hidup. Siapa pencipta ketakutan-ketakutan ini, siapa yang menanamkan pada setiap kita ?


Heru pulang, saya belum sempat menemuinya. Minggu mungkin kita bisa bertemu, mendengarkan dan menanyakan bagaimana kehidupan itu. Sambil mengadukan kopi yang biasa ia lakukan, lalu memainkan rambutnya yang mulai memanjang.  

-Jakarta, 18 Mei 2017




Pict : Ulay friend, Bandung

GY!BE - Moya
Ghaust - Akasia RMX
Individual Life - Metropolis
Petaka - Sebuah Dedikasi
Bars of Death - Tak ada Garuda di Dadaku 
Homicide - Barisan Nisan

Komentar